Friday, January 06, 2006

Female that Struggle (Female that Rocks Pt. II)

Beberapa hari ini gw tengah tertarik sama musisi atau band cewek. Seperti yang pernah gw tulis sebelumnya di blog ini tentang "female that rocks", ternyata dunia musik ini terlalu luas untuk hanya dijejali dengan nama-nama yang udah gw sebutin sebelumnya. Suatu hari gw iseng browsing buat nyari penyanyi/penulis lagu asal Amerika (Bermuda sih tepatnya) yang bernama Heather Nova. For your info, Heather Nova turut menyumbangkan suara merdunya di soundtrack I Am Sam, menyanyikan "We Can Work It Out"-nya The Beatles. Ketika gw penasaran seperti apa CD-nya, gw coba browse ke seluruh toko CD dan kaset yang ada di kota ini. Hasilnya nihil! Rak dipenuhi oleh musisi perempuan yang sangat menggiurkan secara visual bukannya kualitas karya, dengan balutan busana mini, dibawah shower, atau berpose ala orgasme (that half opened mouth, three quarter eyes and sensual expression).


Orgasmatron selling machine...

Lantas gw sadar semacam fenomena yang terjadi, bahwa female pop/rockstar itu suffering dari yang namanya sexual judgement (apa hubungannya sama nyari CD coba?). Lihat saja betapa Britney Spears, Maddonna, atau Destiny's Child begitu diagungkan sampai menjadi seorang diva? Atau di negeri sendiri dimana Krisdayanti menjadi sangat tenar. Fisik sangat menentukan. Itu halnya kenapa ada pilihan juga buat para musisi perempuan tersebut untuk kemudian memanfaatkan "shortcut". Sebutlah dengan menjual imej "bitchy" seperti yang ditulis oleh reporter Trax, Soleh Solihun baru-baru ini tentang duo Ratu (meski secara eksplisit). Di situ dituliskan upaya Maya Achmad untuk ber-attitude "nakal" dalam konsernya di Bandung dengan menyebutkan berulang kali kata yang bermakna bagian privat perempuan dalam bahasa Sunda. Itu hanyalah satu kasus.

Lihatlah bagaimana produser dari duo lain dari Rusia, yang nampaknya menjadi inspirasi Maya Achmad, t.A.t.u. Heboh kasus mereka beradegan cium tampaknya sudah membentuk imej tersendiri mengenai lagu yang mereka lantunkan. Tidak secara "khas" seksi, tapi imej seksual-lah yang membentuknya. Juga heboh-heboh kasus ciuman Britney Spears dan Maddonna serta Christina Aguilera di MTV Awards beberapa tahun lalu. Imej membentuk bahwa mereka seksi (sekaligus naughty), yang tentunya meroket di dunia yang penuh dengan justifikasi citra ini. Sejak era pergantian media, dari radio ke televisi, budaya spektasi-pun turut berubah. Tadinya budaya dengar kini menjadi budaya nonton. Dalam alam budaya dengar, kualitas produk yang berwujud musik itu absolut. Kita kudu ngehasilin karya yang layak untuk didengar melalui radio-radio atau rekaman vinyl. Oleh karena itu, dulu orang beramai-ramai menciptakan karya yang layak putar di radio berwujud lagu yang bagus. Profesi songwriter menjadi lahan bagi diva-diva sesungguhnya sebagai bekal menuju tangga showbiz. Muncul nama-nama Karen Carpenter dan kawan-kawan yang menjadi tonggak musisi perempuan untuk berbicara melalui karya.


Maria Taylor dan PJ Harvey

Medio 80-an, televisi melalui MTV mulai merambah masuk industri. Maddonna menjadi diva bentuk baru dalam budaya lihat. Performa adalah segalanya, dan kebetulan Maddonna yang saat itu sangat menjual kemolekan tubuhnya menjadi ikon biduanita baru dalam industri musik, sekaligus perlahan-lahan menyisihkan musisi lainnya yang berasal dari budaya lama, yaitu budaya dengar. Beberapa diantara mereka kemudian memilih untuk berkontribusi menulis lagu untuk perempuan-perempuan lain yang siap menggunakan daya tarik seksualnya untuk kepentingan publisitas. Dalam bahasa kasar, kini mereka juga menjual tubuhnya selain merdu suara. Kapasitas menulis lagu yang bagus bisa ditutupi dengan sensualitas atau sensasi lain yang didukung oleh budaya lihat (a culture of spectacle) tersebut.

Mulai dari tahun 90-an sampai sekarang bisa dibilang jika musisi perempuan yang ol-skool (dari budaya dengar) sudah terpinggirkan sepenuhnya. Siapa yang mendengarkan Janis Joplin sekarang? Lagu Joan Jett lebih dikenal sebagai lagu Britney Spears, serta beralih profesinya Linda Perry menjadi songwriter untuk Christina Aguilera dan Pink. Beberapa di antara musisi ol-skool itu masih ada yang struggle untuk berjuang melawan culture of spectacle ini. Sebut saja Indigo Girls yang dalam sleeve album Retrospective-nya mengungkapkan perlawanan militan terhadap apresiasi yang seimbang bagi musisi perempuan. Terus terang gw cuman tahu Indigo Girl ketika mereka berpartisipasi dalam album kompilasi "No Boundaries: A Benefit for Kosovar Refugees" dengan lagu semi trip-hop-folk-dark berjudul Go. Ternyata setelah gw dengerin lagi (dari Retrospective, album best-nya) Indigo Girl merupakan "saingan" bagi musisi folk pria. Karyanya bisa dibandingkan dengan karya Bob Dylan sekalipun (dalam taraf apresiasi). Duo yang juga menolak segala imej atas potensi seksual mereka (dengan menolak komersialisasi) ini juga membentuk semacam aliansi bagi musisi-musisi perempuan untuk turut melawan "penindasan" terhadap apresiasi musik mereka yang akibat pergeseran media menjadikan mereka hanya semacam objek, bukan subjek.


Kiri atas searah jarum jam: A Girl Called Eddy, Heather Nova, Mono dan Shivaree

Festival Lilith Fair diadakan salah satunya oleh Indigo Girl, dan diprakarsai oleh musisi perempuan lain bernama Sarah McLachlan. Semua tentu pernah mendengar dahsyatnya kekuatan musik dari McLachlan dalam lagunya yang berjudul Angel, Sweet Surrender, atau Possesion. Kemampuannya dalam mengolah adonan musik dasar rock, folk dan juga pop membentuk karakter musiknya sendiri. Selain Indigo Girl dan Sarah McLachlan; Sheryl Crow, dan Jewel juga pernah berpartisipasi dalam Lilith Fair. Lilith Fair secara berkala mengadakan tur keliling Amerika Serikat dan juga Eropa untuk membangun eksistensi mereka dalam dunia musik. Melalui rangkaian konser, promo mereka mengikuti promo ol-skool yang tidak pernah berlebihan tampil di media televisi, namun mengadakan interaksi aktif dengan penggemarnya dalam rangkaian konser. Mungkin jika Britney Spears, Ashley Simpson, dan Destiny's Child mengadakan konser, banyak laki-laki yang mungkin tertarik untuk turut menonton jauh dari sifat apresiasi terhadap karya. Tetapi juga kemungkinan untuk memanjakan nafsu-nafsu seksualnya yang bisa sedikit tergambarkan dalam aksi panggung Spears dan kawan-kawan. Lihatlah Lilith Fair! Sebagian besar audiens adalah perempuan yang merasakan nikmatnya apresiasi kesetaraan. Melihat Indigo Girl bermain improvisasi bersama Sheryl Crow memainkan lagu-lagu lama Cat Stevens sama nikmatnya seperti kita melihat Eddie Vedder bermain bersama Bruce Springsteen memainkan lagu Bob Dylan. Itu adalah apresiasi kesetaraan. Let the music do the talkin'!


Kiri atas, searah jaurm jam: Suzanne Vega, Sleater Kinney, Indigo Girl dan Marissa Nadler.

Tapi lihatlah juga apa yang telah dilakukan industri musik terhadap mereka. Susahnya kita di Indonesia untuk mencari CD-CD dari Indigo Girl, Heather Nova, Aimee Mann atau Sarah McLachlan? Cobalah mencari musik-musik dari artis seperti A Girl Called Eddy, Shivaree, Ani Di Franco, Sarah Fimm, atau Maria Taylor. Tidak akan ada yang menyadari nikmatnya mendengarkan folk psikedelik dari Marissa Nadler karena albumnya tidak pernah ada di Indonesia. Mungkin ketika kita beruntung, beberapa nama itu akan muncul dalam album kompilasi seperti soundtrack. Misalnya Suzanne Vega yang beberapa kali berpartsipasi dalam soundtrack, salah satunya bersama Bruce Springsteen, Eddie Vedder, Nusrat Ali Khan di OST Dead Man Walking. Atau Shivaree yang dipercaya Quentin Tarantino dalam jukebox Kill Bill bersama Nancy Sinatra. Indigo Girl berdiri sejajar dengan aktivis sosial semacam Pearl Jam, Rage Against the Machine, Neil Young dan Tori Amos (another diva). Michelle Branch diakui kapabilitasnya bersama Carlos Santana. Atau di kancah lokal dengan munculnya Tika dalam wujud album perdanaya Frozen Love Songs. Serta Sarah Silaban yang meluncurkan singel-nya. Mereka berjuang membentuk kutub tersendiri melawan eksploitasi industri musik atas "pelecehan seksual" gaya baru. Tetapi sebagai bangsa konsumen, di Indonesia kita masih butuh perjuangan untuk melanggengkan perjuangan kesetaraan tersebut karena terbatasnya sumber-sumber. Mungkin jika makin banyak Sarah Silaban, Tika dan sebagainya kemudian membangunkan Lilith Fair ala Indonesia, kesadaran apresiasi yang seimbang itu akan muncul. Suatu pelajaran budaya yang menarik. Sampai waktu itu, terimalah kenyataan bahwa seorang Kelly Osbourne atau Kelly Clarkson jauh lebih populer dibanding Heather Nova atau bahkan Indigo Girl.


***

Recently bought CD's:
Victoria Williams - Loose: Folk, salah satunya ada lagu Crazy Mary tentang perempuan pemabuk. Sedikit seperti Neil Young atau Bob Dylan, something in between. Suara cempreng tapi lirik lagu yang dahsyat.

Fiona Apple - Tidal: Apa yah klasifikasinya? Trip Hop, Jazz, Pop sama Rock ada semua. Secara umum masih kurang rapi sih konsepnya, tapi coba denger dengan low tune sambil tidur. Menggetarkan dan bikin atmosfer yang lumayan dark. Membuat ruangan kita menjadi makin nyaman.

Indigo Girl - Retrospective: Powerful! Folk dan pop bisa menjadi irama-irama yang soulful. Coba didengarkan atau dimainkan sama bagusnya. Sama enjoynya gw mendengarkan Vedder atau Bruce Springsteen. Sama enjoynya dimainkan di api unggun.

Sarah Silaban - EP: Well, pop, tapi at least dia juga seorang songwriter jempolan! Mulai cinta produk lokal nih.

Recently downloaded and will murder to get their CD's:
A Girl Called Eddy (hmm...mirip-mirip Shirley Manson-nya Garbage, lebih halus lagi. Rock),
Ani di Franco (ini nih gw demen, bayangin Bu$hleaguer-nya Pearl Jam disuarain sama Ully Sigar Rusadi...dengan suara yang lebih merdu dan isu yang lebih nendang tentunya),
Linda Perry (we all know, the frontwoman of Four Non Blondes),
Maria Taylor (antara Fiona Apple dan Sarah McLachlan...keren banget),
Marissa Nadler (didengerin sambil mabok...hehe, psikedelik sekali, ala 60-an kental),
Nina Nastasia (musik minimalis, suara merdu a lil' bit trip hop...bolehlah buat yang suka Bjork dengan kecenderungan lebih easy listening),
Pink N Ruby (trip hop, ala Massive Attacks tapi lebih mentah jadi sedikit gothic juga),
Sarah Fimm (another trip hop-rock yang keren dengan suara "gelap" dan gloomy, mungkin mirip sama Fiona Apple juga di album Tidal),
Sophie Barker (folk-country dan cenderung pop),
Tara Angell (dark dan moody, gloom...didengerin di low tune).

Thursday, December 29, 2005

Paradoks Sejarah di (Bagian) Sejarah Rock

Tulisan ini adalah terjemahan gw atas artikel yang ada di majalah Spin (online), tentang hubungan antara artikel yang diterbitkan majalah terebut 11 tahun silam (Januari 1995) dengan realita yang terjadi pada saat ini. Gw memilih artikel ini karena menarik sekali, bagaimana sebuah pilihan untuk "mati" bisa menjadi strategi kita hidup. Tentu tidak seprofan itu pembahasannya, tetapi dalam hubungannya dengan ketenaran dan kejayaan, dunia rock (bisa) menjadi sebuah laboratorium hidup untuk diobservasi. Kebetulan, apa yang diangkat oleh Spin kali ini menyangkut dua band favorit gw, Pearl Jam dan Oasis. Here we go:

Ethically Pure Grunge and Cokehead Britpop
Prove that History is Bunk Half the Time

by Chuck Klosterman

December 23, 2005


Bagaimanapun ahli sejarah menganalisa apa yang terjadi di masa lalu, biasanya mereka cenderung memprediksi kelanjutannya (hanya) dalam dua kondisi: bahwa semua akan berbeda sama sekali, atau semua masih tetap sama. Masalahnya, kedua kondisi tersebut bisa saja terjadi pada saat yang sama. Sebelas tahun yang lalu, kolumnis gosip Village Voice di majalah Spin, Michael Mustro, menulis artikel yang terinspirasi oleh karakter dari film The Breakfast Club. Setelah lebih dari sepuluh tahun, paradoks kesejarahan tersebut membuktikan bahwa ada kondisi yang tidak berubah dan ada juga kondisi yang berubah sama sekali.

Saya tidak yakin jika artikel (cover-story) tentang Pearl Jam saat itu (Pearl Jam terpilih menjadi Best Band, tahun 1995 yang dipilih oleh pembaca Spin) atau review konser Oasis (yang bermain di klub-klub pada tur Definitely Maybe) merupakan sebuah refleksi paradoks kesejarahan tersebut, tentang bagaimana musik rock akan berubah selama satu dekade selanjutnya. Atau (hanya) merupakan sebuah kisah klise tentang budaya yang melintasi ruang waktu? Apa yang menarik dari kedua artikel tersebut adalah bukti dari prediksi apa yang akan terjadi ke depan (satunya tersamar, dan satunya lagi cenderung jelas). Dan bisa dikatakan bahwa keduanya akurat. Alasan bahwa hal ini menjadi menarik adalah fakta bahwa masa depan itu cenderung mudah diprediksi tetapi biasanya malah (kadang) menjadi sama sekali berbeda.

Artikel tentang Pearl Jam merupakan interview dengan Eddie Vedder yang merefleksikan keengganannya menerima hasil polling majalah Spin yang menempatkan Pearl Jam sebagai band terbaik tahun 1995. “Gue setuju banget sama pendapat itu,” ujar Vedder ketika reporter menyebut bahwa Pearl Jam juga terpilih sebagai band yang paling overrated. “Gue ngga bakalan mampu bikin band gue menjadi band yang terbaik, tapi gue pasti udah bikin band gue jadi band paling overrated.” Vedder kemudian juga menyayangkan bahwa Mudhoney justru tidak pernah merasakan sukses platinum (tentunya menjadi ironis mengingat Eddie dengan jelas menyatakan bahwa ketenaran-lah yang merusak hidupnya, jadi saya tidak begitu paham kenapa dia malah ingin Mark Arm merasakan hal yang serupa dengannya, whatever). Dalam prediksi yang tersirat, Pearl Jam mungkin (sedang) merencanakan untuk menjadi lebih kecil, dan lebih less-important, dimana ternyata mereka benar-benar melakukannya. Luar biasa!

Saya tidak yakin kalo ada band besar yang bisa mengatur kadar kesuksesan mereka secerdas Pearl Jam – mungkin U2 atau Rolling Stones, tapi mereka tetap dalam kapasitas untuk mempertahankan status stardom mereka, bukan menurunkannya. Pearl Jam sebetulnya merencanakan semacam kurva parabola dari keberadaan mereka di industri musik. Saya kadang bingung dengan orang-orang yang membenci Pearl Jam. Saya juga tidak paham kenapa orang-orang cenderung membenci grup yang pernah merasakan menjadi band terbesar di dunia dan kemudian meneruskan karirnya untuk menjadi tidak sebesar itu. Cukup dengan menjadi band rata-rata. Pearl Jam hanya membuat satu lagu yang bagus (“Corduroy”), tetapi mereka juga mempunyai 19an lagu yang “hanya” sedikit lebih baik daripada lagu berkualitas so-so. Sebetulnya mereka bisa saja membuat tiga album lagi yang merupakan replika dari Ten, lantas menghabiskan sisa karir mereka dengan bersantai, memakan lobster dan berenang di kolam emas. Tapi mereka tidak melakukannya. Mereka tidak melakukannya karena mereka berpikir bahwa hal itu akan menjadikan mereka tidak disukai. You see, nice guys do not finish last, tapi nice guys finish in the middle.

Hal itu membawa kita ke Oasis, sebuah band yang berhasil melampaui kadar medioker mereka dan menjadi megalomania. Oasis adalah gambaran anti-Pearl Jam. Mereka tidak bersikap baik kepada semua orang, termasuk kepada mereka sendiri. “Itu karena Oasis dipenuhi dengan macam-macam ketegangan yang tumbuh dari hubungan aneh Gallagher bersaudara ,” tulis Jonathan Bernstein,“ yang patut dipertanyakan apakah band tersebut bakal berkembang?” Oasis (ternyata) benar-benar berkembang; mereka berkembang menjadi keras kepala, dan semakin susah untuk membawa mereka semakin serius. Tapi akan lebih susah untuk mendebat karya musikal mereka; dimana ketika Pearl Jam hanya membuat satu lagu yang benar-benar bagus, Noel Gallagher paling tidak membuat tiga lagu yang bagus di Definitley Maybe. Dan dia terus membuat karya yang bagus. “Acquiesce” sangat hebat hampir tiga kali lebih bagus dari lagu-lagu terbaik Definitely Maybe, sementara “Don’t Look Back in Anger” lebih bagus sebelas kalinya. Semua orang mungkin berpikir jika Be Here Now kurang rapi, tapi album tersebut tetap saja jauh lebih keren dibanding semua album yang dikeluarkan Blur. Bahkan Oasis menghasilkan dua dari tiga album Britpop paling menonjol yang dirilis sepanjang dekade 90-an. Jadi di sini kita bertanya-tanya: Siapa yang lebih baik? Pearl Jam yang sukses mengubah diri menjadi band medioker, sesuai dengan keinginan mereka sendiri, atau Oasis yang “kebetulan” menjadi rockstar? Baik Eddie atau Noel sama-sama mengagumi Neil Young, sosok yang juga ditanya dengan pertanyaan serupa di tahun 1979: pilih mana, antara menghilang tiba-tiba atau berangsur menghilang? Segalanya berubah.

Dan ada (pula) yang tidak berubah.

Tuesday, December 20, 2005

Vitalogy - A Monumental Experimentation

Album "Ten" sebagai debut album Pearl Jam telah menandai klasifikasi band tersebut ke dalam jajaran industri musik. Secara stereotip, biasanya perjalanan sebuah band setelah kesuksesan album pertama adalah membuat karya yang ngga jauh beda dari album sukses mereka untuk menjaga stabilitas. Tidak sedikit juga yang kemudian sedikit masuk kompromi-kompromi evaluatif agar lagunya lebih diterima pasar. Pada akhirnya jamak juga pendapat: "...more like the old stuff".

Agar tidak "terjebak" dalam stereotipikal kreatif seperti di atas, Pearl Jam secara revolusioner mengubah "jenis" musik mereka secara eksperimentatif dalam album kedua "VS". Hampir 180 derajat, VS jauh lebih dekat ke apa yang dikenal dengan dentifikasi musik grunge. Distorsi yang "diumbar" dan juga absennya kord yang terlalu "shaped" sepeti halnya album pertama. Secara komersial, apa yang dihasilkan Pearl Jam dalam album VS itu justru merupakan penurunan. Pearl Jam tengah berevolusi secara eksperimentatif untuk mulai mencari sound mereka sendiri. Kemunculan lagu-lagu seperti Rats, WMA, atau Indifference menjadi tonggak eksplorasi yang dilakukan Stone Gossard dan kawan-kawan, meski masih menyisakan nomer-nomer familiar dalam Animal, Go dan Rearviewmirror. Secara berkelanjutan, "Vitalogy" yang merupakan album ketiga - dirilis dalam selang waktu 1 tahun dari VS - menampilkan adonan yang kurang lebih serupa dengan "VS". Eksplorasi dan eksperimentasi. Bedanya, dalam Vitalogy, kemasan eksperimentasi dibungkus dalam konsep album yang lebih rapat. Jadi ketika ada komplain standar dari fans tentang band-nya: "...like the old stuff is better and harder or so!", this is Pearl Jam!



Vitalogy lebih kurang seperti dibagi menjadi dua repertoar berdasarkan tempo track-per-track. Pada (semacam) repertoar pertama Pearl Jam mengawali dengan "Last Exit", sebuah lagu upbeat yang dilanjutkan dengan "Spin the Black Circle", semi-hardcore-ish menandakan kontinuitas dengan agresifitas album sebelumnya. Lagu-lagu selanjutnya cenderung menurunkan tempo, sampai pada bab di mana "Nothingman" menutup rangkaian repertoar awal. Repertoar kedua bisa dimulai dengan "Whipping" yang lanjut ke "Corduroy" (diselingi "Pry To", sebuah nomor eksperimental). Dan segera diikuti oleh deretan tracks yang menurun tempo-nya, ditutup oleh format ballad "Immortality" (lagi-lagi dengan menyelipkan nomor-nomor eksperimental). Di album ini Pearl Jam memang terkesan untuk membuat satu "perjalanan" apresiatif dari mendengarkan Vitalogy secara utuh. "Bugs" bahkan, yang hanya bermodalkan akordion, bisa membuat kita memahami betapa annoying-nya sebuah bunyi-bunyian repetitif yang tidak berirama (sesuai dengan pesan lagu). Secara musikal, mereka jauh lebih mature untuk tidak bermasturbasi dengan solo-solo bluesy Mike McCready yang panjang, tetapi menghasilkan harmony seperti halnya yang dilakukan Brian May dari Queen dengan banyak menahan ego-nya. Lagu "Not For You" misalnya, yang menampilkan salah satu solo-melodi gitar terbaik dari Pearl Jam dengan durasi relatif mini. Atau dengan pendekatan ritem-ritem "punk" (trikord) yang "beautifully crafted" dan lebih mature ketimbang dari album VS, seperti di "Tremor Christ" atau "Satan's Bed".

Secara tema, kematian Kurt Cobain mendapat tempat tersendiri pada lagu "Immortality" yang secara implisit memberi makna kematian Cobain dalam posisi sebagai korban. Album Vitalogy juga memberi tempat perlawanan Pearl Jam terhadap media dan industri musik secara umum. Penolakan terhadap fame yang ditulis Eddie Vedder lewat Corduroy menggambarkan angst secara sempurna. Kemudian sikap anti-kompromis yang tertuang dalam Not For You juga memberikan gambaran "pemberontakan" yang melegendakan saga Pearl Jam versus industri musik. Ditambah kasus TicketMaster sebagai unsur ekstrinsik album ini, Vitalogy bisa berperan sempurna sebagai monumen perjalanan bermusik Pearl Jam yang masih tetap eksis sampai jelang 15 tahun sejak rilis album perdana "Ten". Vitalogy juga bisa menjadi landmark terakhir peninggalan "grunge legacy" yang diasosiasikan dengan kematian Kurt Cobain. Entah kebetulan atau tidak, di album selanjutnya, "No Code", Pearl Jam jauh lebih eksperimentatif melepaskan dari grunge-ish, untuk kemudian menemukan musik Pearl Jam sejati dalam album "Yield" yang dibawa seterusnya ke era "Riot Act".

Jauh dari apa yang diperdebatkan banyak orang, Pearl Jam mempunyai cara yang jauh lebih monumental untuk menghargai warisan-warisan scene Seattl-ish berkaitan dengan meninggalnya Kurt Cobain. Jauh lebih terhormat dari apa yang dilakukan anak dan janda mendiang Cobain dengan menggadaikan karya-karya Cobain ke dalam lingkar industri musik saat ini.

TrackList:
01. Last Exit
02. Spin the Black CIrcle
03. Not For You
04. Tremor Christ
05. Nothingman
06. Whipping
07. Pry To
08. Corduroy
09. Bugs
10. Satan's Bed
11. Better Man
12. Aye Davanita
13. Immortality
14. Hey Foxymophandlemama, That's Me

Small Notes:
+ Album terakhir Pearl jam bersama drummer Dave Abruzzese. Setelah launching album, Dave Ab digantikan oleh Jack Irons, mantan drummer Red Hot Chilli Peppers.
+ Dibuat dalam "banned era" yaitu masa dimana Pearl Jam tidak bisa mengadakan konser selama dua tahun akibat kalah dalam pengadilan melawan TicketMaster (TM), raksasa industri musik di Amerika. Pearl Jam membawa TM ke pengadilan dengan mosi anti-trust karena pihak menjual tiket konser Pearl Jam di atas standar harga.
+ Buklet album diilhami oleh buku berjudul "Vitalogy" yang berisi informasi-informasi anatomi dan kesehatan manusia. Buku itu adalah semacam buku wajib kedokteran di akhir abad ke-19.
+ BetterMan, sebetulnya merupakan lagu lama yang ditulis Vedder pada masa sebelum Pearl Jam (Bad Radio). Nothingman merupakan komparasi BetterMan pada sudut pandang yang berbeda secara intepretatif (opini gw sendiri).
+ Spin the Black Circle memenangkan Grammy Award untuk kategori "Best HardRock Performances".